Cerita Masalahku ke Siapa ya?

Sobat, tahukah kamu, saat remaja mengalami masalah, apa yang kira-kira mereka lakukan untuk memecahkannya? Apakah menceritakannya pada orang tua? pada guru bimbingan dan konseling? pada teman? atau pada siapa?

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Kak Ira bersama Kak Pramono terhadap 42 remaja pada akhir tahun 2014 menunjukkan bahwa saat mendapatkan masalah, lebih dari setengah mereka memilih menceritakannya pada teman. Teman dianggap sebagai orang yang paling dapat mengerti dan memahami duduk persoalannya.  Teman dianggap sebagai pihak yang dapat memberikan solusi dan menemani disaat sedang membutuhkan sandaran.

Sebanyak 22% remaja itu memilih untuk menyimpan sendiri permasalahannya dan tidak menceritakan masalahnya pada siapapun. Mereka merasa permasalahan mereka tidak selesai meskipun diceritakan pada orang lain, oleh karena itu, daripada membuat orang tahu permasalahan mereka tanpa memberikan solusi berarti, mereka memilih untuk menyimpannya sendiri. Sementara itu, ada pula remaja yang tidak menceritakan permasalahan mereka namun mencari solusinya sendiri secara aktif, dengan anggapan bahwa diri mereka sendirilah yang memahami permasalahan dan kunci penyelesaian permasalahan itu ada pada diri mereka seutuhnya.

Yang mengejutkan, hanya 7% dari para remaja ini yang menceritakan permasalahannya pada keluarga, baik itu orang tua maupun kakak dan adik mereka. Mereka enggan untuk menceritakan permasalahan  karena malu pada orang tua, takut orang tua merasa khawatir berlebihan, dan akhirnya menjadi overprotective terhadap pergaulan mereka.

Ketika ditanya mengapa tidak menceritakan permasalahan pada guru bimbingan karir, para remaja mengakui bahwa mereka akan menceritakan masalah mereka pada guru BK jika benar-benar membutuhkan penyelesaian dengan campur tangan orang lain, misalnya untuk menyelesaikan konflik yang membutuhkan pihak ketiga.

Nah, kalau kamu bagaimana?

 

Sumber gambar: http://driverlayer.com/img/whisper/12/image?tab=1